Jumat, 21 Juni 2013

Makalah Potensi Ruhaniah Manusia



BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
                  Potensi ruhaniah manusia sebagaimana di ketahui dasar manusia itu terdiri dari dualisme yang saling melengkapi, yaitu manusia terdiri dari badan kasar (jasmani)  dan badan halus (rohani), kalau jasmani digerakkan oleh fikiran, perasaan dan kemauan yang melahirkan kekuatan lahir. Sedangkan rohani digerakkan oleh cipta, rasa dan karsa yang melahirkan kekutan batin.
                  Dari sisi rohani manusia berbeda dengan hewan. Manusia mempunyai akal sedangkan hewan tidak mempunyai. Manusia mempunyai hati (qalb) sedangkan hewan tidak mempunyai. Konsekuensinya adalah perbuatan manusia dimintai pertanggungjawaban oleh Allah sedang perbuatan sedangkan hewan tidak dimintai pertanggung jawaban.
B.     Rumusan Masalah
                  Di dalam makalah ini ada beberapa hal yang menjadi pokok permasalahan yaitu :
1.      Penjelasan tentang Al – Nafs (Nafsu), Al – Qalb (Hati), AL – Aql (Akal), dan Al – Ruh (Roh) ?
C.     Rumusan Masalah
                  Setiap kegiatan pastilah ada tujuan tertentu yang ingin dicapai, demikian juga yang dilakukan penulis dalam pembuatan makalah ini. Adapun tujuan penulisan membuat makalah ini adalah bertujuan untuk:
  1. Menjelaslaskan maksud dari Al – Nafs (Nafsu), Al – Qalb (Hati), AL – Aql (Akal), dan Al – Ruh (Roh).



BAB II
PEMBAHASAN
A.     Al–Nafs
Al-Nafs,[1]   secara   umum   al-nafs   jika     dikaitkan     dengan    hakekat manusia, menunjuk kepada sisi manusia yang berpotensi baik dan buruk. Al-nafs mempunyai sifat lembut (lathif) dan robbāni, ia adalah al-ruh sebelum bersatu dengan jasad (tubuh kasar manusia), sebab al-ruh diciptakan terlebih dahulu sebelum jasad.[2] Sejalan dengan Amin al-Kurdi, Imam al-Gazali  dalam menguraikan al-nafs (jiwa) menggunakan empat terminologi, yakni al-qalb, al-ruh, al-nafs, dan al-‘aql.[3]  Keempat terminologi terebut mempunyai arti  umum dan khusus.
Kata al-nafs merupakan kata ambigu. Makna pertama dimaksudkan sebagai makna universal, perpaduan dari potensi marah (fakultas emotif) dan hasrat ego (syahwat) dalam diri manusia. Penggunaan kata al-nafs dalam hal ini banyak digunakan dalam tradisi Sufi. Mereka mengartikan al-nafs sebagai sumber dari keseluruhan sifat-sifat manusia yang tercela. Karena itu mereka sering menggunakan istilah “berperang melawan nafsu dan mematahkan ego (syahwah) adalah suatu keharusan.” Al-Nafs dalam makna pertama ini tentu saja tidak dapat diterima melalui konsepsi kaum sufistik untuk bisa kembali kepada Allah swt., bahkan amat jauh dari Allah swt., dan al-nafs dalam kontek ini adalah satu partai yang memihak kepada setan. Apabila ketenteramannya tidak sempurna, namun masih mampu menahan nafsu syahwat, disebut nafsu lawwāmah. Sebaliknya, jika menyerah pada tantangan nafsu, bahkan memperturutkan syahwah dan ajakan setan, disebut sebagai nafsu amārah.
Makna kedua al-nafs adalah lathifah sebagaimana terminologi lainnya di atas – yakni sisi yang hakiki, spirit, dan identitas seseorang – tetapi dideskripsikan dengan sifat-sifat yang berbeda-beda menurut perbedaan situasi dan kondisinya. Apabila al-nafs berada dalam kondisi tentram dibawah perintah Allah swt., dan menepis segala kegundahan, maka disini disebut sebagai al-nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenteram).
Menurut al-Ghazali nafsu diartikan “Perpaduan kekuatan marah (gadlab) dan syahwat dalam diri manusia”. Kekuatan ghadlab pada awalnya tentu untuk sesuatu yang positif seperti untuk mempertahankan diri, mempertahankan agama dan sebagainya. Dengan adanya gadlab itulah jihad diperintahkan dan kehormatan diri terjaga. Dengan kekuatan marah seseorang dapat menumpas kedhaliman dan sebagainya. Namun ketika gadlab tidak terkendali maka yang terjadi adalah kehancuran dan akhlak tercela. Demikian juga dengan syahwat (syahwat sek) perkembangbiakan manusia tetap berjalan, perpaduan antara pria dan wanita yang membentuk satu keluarga bisa terjadi sehingga akan terbentuk komunitas sosial. Dengan syahwat (makan dan minum), muamalah mencari rejeki dapat berjalan. Bisa dibayangkan seandainya tidak ada syahwat makan, minum dan sebagainya tentu roda perekonomian tidak mungkin berjalan. Namun bila syahwat tidak dikendalikan maka yang terjadi adalah kehancuran dan akhlak tercela.[4]
B.     Al–Qalb (Hati)
Al-Qalb  dalam pengertian pertama adalah al-qalb al-jasmani atau al-lahm al-shanubari, yaitu daging khusus yang berbentuk seperti jantung pisang Yang terletak di dalam dada  sebelah kiri. Al-Qalb dalam pengertian pertama ini erat kaitannya dengan ilmu kedokteran dan tidak banyak menyangkut maksud-maksud agama serta kemanusiaan. Al-Qalb tersebut juga terdapat pada hewan. Al-Qalb dalam pengertian kedua menyangkut jiwa yang bersifat lathif, rohāniah, dan robbāni, dan mempunyai hubungan dengan al-qalb al-jasmani. Al-Qalb dalam pngertian kedua inilah yang merupakan hakekat dari manusia, karena sifat dan keadaannya yang bisa menerima, berkemanuan, berfikir, mengenal, dan beramal. Selanjutnya kepadanyalah ditujukan perintah dan larangan, serta pahala dan siksaan Allah.
Sebagian dari persoalan yang patut di perhatikan di sini adalah bahwa kalimat qalb di sebut dalam Alquran al-karim. Hanya saja penyebutan ini tidak secara mutlak menunjukan bahwa kata qalb di artikan dalam konteks anatomi kedokteran (yaitu, hati yang melekat dalam badan), melainkan di maksud sebagai “instrumen persepsi ma’rifah yang sangat kompleks”.[5]
Menurut Al-Ghazali qalb mempunyai dua pengertian. Arti pertama adalah hati jasmani (al-Qalb al-jasmani) atau daging sanubari (al-lahm al-sanubari), yaitu daging khusus yang berbentuk jantung pisang yang terletak di dalam rongga dada sebelah kiri dan berisi darah hitam kental. Qalb dalam arti ini erat hubungannya dengan ilmu kedokteran, dan tidak banyak menyangkut maksud-maksud agama dan kemanusiaan, karena hewan dan orang mati pun mempunyai qalb. Sedangkan qalb dalam arti kedua adalah sebagai luthf rabbani ruhiy. al-Qalb merupakan alat untuk mengetahui hakikat sesuatu.
Lapisan Qalb yang terluar disebut al-shadr yang merupakan tempat masuknya godaan penyakit, unek- unek , syahwat, dan segala kebutuhan. al-Shadr itu bisa lapang dan bisa sempit. Ia juga sekaligus munculnya cahaya Islam. Ia juga tempat menyimpan ilmu yang bersumber dari pendengaran.
Kadar kebodohan dan kemarahan, dada seseorang menjadi sempit dan tidak ada batas kelapangannya. Jika al-shadr sempit dengan kebenaran maka penuh dengan kebatilan. Lapisan Qalb yang kedua disebut al-qalb. Ia sebagai sumber cahaya keimanan, khusu’, taqwa, ridla, yakin, khauf, raja`, sabar, qanaah. Al-qalb ibarat raja dan nafs adalah kerajaan. Lapisan Qalb yang ketiga adalah al-Fuad yang merupakan tempat ma’rifat, bersitan (khawatir) dan penglihatan (al-ru`yah) Lapisan qalb yang keempat adalah al-lub yang merupakan tempat cahaya tauhid.
C.     Al–Aql (Akal)
                  Hal yang perlu di ingat adalah bahwa kata al-‘aql (sebagai kata dasar) tidak di jumpai di dalam Al-qur’an al- Karim sama sekali, melainkan kata devirasi atau bentuk jadian yang berupa kata kerjanya, semisal ya’qilu, na’qilu, ta’qiluna, ya’qiluna, ‘aqillu yang mencapai 50 kata[6].
Ada beberapa pengertian tentang aql. Pertama, aql adalah potensi yang siap menerima pengetahuan teoritis. Kedua, aql adalah pengetahuan tentang kemungkinan sesuatu yang mungkin dan kemuhalan sesuatu yang mustahil yang muncul pada anak usia tamyiz, seperti pengetahuan bahwa dua itu lebih banyak dari pada satu dan kemustahilan seseorang dalam waktu yang bersamaan berada di dua tempat. Ketiga, aql adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman empirik dalam berbagai kondisi. Keempat ,aql adalah potensi untuk mengetahui akibat sesuatu dan memukul syahwat yang mendorong pada kelezatan sesaat.
Dengan demikian orang yang berakal adalah orang yang didalam melalukan perbuatan atau tidak melakukan perbuatan didasarkan pada akibat yang akan muncul bukan didasarkan pada syahwat yang mendatangkan kelezatan sesaat. Aql yang pertama dan kedua merupakan bawaan sedangkan aql yang ketiga dan keempat merupakan usaha.
                  Di dalam al-Qur`an, kata aql dalam bentuk kata benda tidak ditemukan yang ditemukan di dalam al-Qur`an adalah kata kerjanya yakni ya’qilun, ta’qilun dan seterusnya. Aqala ( fi’il Madli, kata kerja lampau) berarti menahan atau mengikat. Dengan demikian al-A’qil (isim fail) berarti orang yang menahan atau mengikat hawa nafsunya sehingga nafsunya terkendali karena diikat atau ditahan. Sedangkan orang yang tidak mempunyai aql tidak mengikat nafsunya sehingga nafsunya liar tak terkendali.
D.      Al–Ruh (Roh)
Al-ruh dalam pengertian pertama adalah organik yang lembut yang kandungannya merupakan darah kental yang bersumber dari rongga al-Qalb al-Jasmani. Melalui nadi-nadi yang berdenyut (al-‘uraq ad-dawārib) didistribusikan mengalir ke seluruh tubuh. Sirkulasi darah ke seluruh tubuh menimbulkan berkas-berkas cahaya kehidupan, indera, persepsif, penglihatan, pendengaran, indera penciuman, dari sana, dapat dimisalkan dengan timbulnya berkas-bekas cahaya dari lampu dalam minyak lentera rumah. Para dokter, ketika menunjuk kata  al-ruh maksudnya adalah teminologi tersebut. Pengertian kedua, al-ruh bermakna lat)ifah yang memiliki pengetahuan dan pemahaman yang ada pada manusia. Inilah salah satu makna diantara dua makna yang dimiliki kalbu.
Para ulama berbeda–beda dalam mengartikan ruh. Sebagaian mengartikan kehidupan (al-hayah). Sementara menurut al-Qusyairi, ruh adalah jisim yang halus bentuknya (sebagaimana malaikat, setan) yang merupakan tempat akhlak terpuji. Dengan demikian ruh berbeda dengan al-nafs dari sisi potensi positif dan negatif. Nafsu sebagai pusat akhlak tercela sementara ruh sebagai pusat akhlak terpuji. Ruh juga merupakan tempat mahabbah pada Allah. Dengan Ruh itulah Allah menciptakan manusia menjadi hidup dan kehidupan manusia tumbuh berkembang karena adanya cahaya ilahi yang memudahkan kita sebut dengan Hubb atau Cinta. Dengan cinta itulah seluruh alam semesta termasuk manusia di ciptakan sehingga seluruh kepribadian manusia pada awalnya di gerakkan oleh energi cahaya tersebut mengisi seluruh pori-pori dan syaraf qalbu dengan cinta yang meng-Ilahi.[7]
Ruh juga dapat di artikan sebagai “Rahmat” sebagaimana kita lihat ketika Ya’qub yang di landa kesedihan melepaskan anak-anaknya untuk mencari Yusuf dan Ya’qub berkata :
“…dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat (rauh) Allah. Sesungguhnya, tiada berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum kafir.” (Yusuf: 87)
BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
                  Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa Gabungan antara aspek jasmani dan ruhani disebut dengan al-nafs. (diri). Nafs sendiri mempunyai beberapa kekuatan ruhani seperti ruh, akal, dan qalb. Dilihat dari sisi materi, manusia tidak berbeda dengan hewan. Yang membedakan antara manusia dan hewan adalah sisi ruhaniahnya. Keduanya secara biologis mempunyai kebutuhan yang sama seperti makan, minum, seks, istirahat dan sebagainya. Dan keduanya secara biologis mempunyai sifat yang sama bisa sakit dan mati. Dari sisi rohani manusia berbeda dengan hewan. Manusia mempunyai akal hewan tidak mempunyai. Manusia mempunyai hati ( qalb ) hewan tidak mempunyai. Konsekuensinya adalah perbuatan manusia dimintai pertanggungjawaban oleh Allah sedang perbuatan hewan tidak dimintai pertanggung jawaban.
B.     Saran
                  Di sarankan kepada pembaca, supaya lebih memahami tentang Akhlak Tasawuf  agar lebih baik mencari referensi lain selain makalah ini. Karena makalah ini jauh dari kata Sempurna untuk di jadikan sebuah buku pedoman dalam sistem pembelajaran dan penulis  mengharapkan saran dan kritik dari bapak dosen untuk perbaikan makalah ini.







Daftar Pustaka
Muhammad ‘Abdullah asy-Syarqawi, Sufisme dan Akal, (Bandung: Pustaka           Hidayah, 2003).
Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intelligence), (Jakarta:          Gema Insani, 2001).





[1] Kata nafs dengan segala bentuknya terulang 313 kali dalam alquran, 72 kali di antaranya disebut dalam bentuk nafs yang berdiri sendiri. Ayat.ayat al-quran yang menyebut kata nafs/anfus menunjukan bermacam-macam arti, di antaranya : a. hati, al-Isra (17) : 25, b. jenis, al-Taubah (9) : 128, c. nafsu, Yunus (12) 53, d. jiwa/ruh, al-Imran (3) 145 dan 185, e. totalitas manusia, al-Maidah (5) 32, dan f. diri Tuhan, al-An’am (6) : 12, Baca : Ensiklopedia, h. 297-298
[2] Amin al-Kurdi,  Tanwir,  h. 465
[3] al-Gazali,  Raudhah  ath-Thālibin  wa  ‘Umdah  as-Sālikin,   alih bahasa :  M. Lukman
Hakiem, cet. V, (Surabaya : Risalah Gusti, 2005), h. 69 - 72

                [4]http://mazguru.wordpress.com/2009/02/08/potensi-ruhaniah-manusia/. October20, 2012. 5:24 PM
                [5] Muhammad ‘Abdullah asy-Syarqawi, Sufisme dan Akal, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2003), hlm 73.
                [6]Ibid,  hlm 55.
                [7]Toto Tasmara, Kecerdasan Ruhaniah (Transcendental Intelligence), (Jakarta: Gema Insani, 2001), hlm. 55.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar